Naskah Drama 5 Orang tentang Meraih Mimpi



Para Pemimpi

Teeet.. teet..
Bel tanda masuk berbunyi. Anak-anak pun mulai berlarian menuju kelas masing-masing. Vina, Jian, Risa, Rima, Yutho, dan Dian melangkahkan kakinya ke kelas seni. Mereka adalah enam sekawan yang sama-sama mengambil kelas seni. Mereka mempunyai bakat dan sifat yang berbeda-beda. Sehingga membuat suasana kelas seni seperti pelangi, meski pagi itu hujan tak kunjung datang.

Dian           :” Tunggu” ( Menoleh ke papan tulis )             
Yutho         :”Lakukan yang terbaik buat saya ya anak-anak, Lakukan sesuai bakat dan minat kalian, boleh di dokumentasikan, atau .. terserah kalian,  saya nggak sabar menanti minggu depan untuk melihatnya“ (membaca tulisan di papan tulis)
                        Dian           :”Tugas?”
Jian             :Ih Bu Lintang, kenapa ada tugas sih!”
Risa            :”Nama nya juga sekolah, ya pasti ada tugas.”                             
Rima          :”Iya nih Jian, gimana sih?”
Vina           :”Lagi ngomongin apa sih? Serius banget.”
Dian           :”Lihat papan tulis di depan!”
Vina           :”Ha? Tugas?”

Tak lama setelah merasa Shock ketika mereka tahu akan mendapat tugas, mereka kembali duduk dan memikirkan apa yang akan dijadikan sebuah karya seni.

Jian              :” Eh... eh... minggir! Aku mau duduk di sini!”
Risa             :”Eh, ada Miss Lebay. Mau duduk di sini ya?”
Jian              :”Iya, emang kenapa?Udah cepet minggir!”
Risa             :”Enak aja, yang duduk duluan kan aku!”
Vina             :”Stop! Bisa nggak sih kalian berdua nggak berantem?”
Jian dan Risa :”Enggak!”
Vina             :”Hhh!” ( Duduk ditempat yang direbutkan Jian dan Risa )
Rima            :”Ada apaan sih, berisik banget?”
Dian            :”Iya nih, jadi nggak konsen nih aku!”
Yutho           :“Jangan bilang kalau Risa dan Jian berantem lagi!”
Vina             :”Nggak Usah tanya.”

Kelas Seni terlihat sibuk pagi itu, tapi tak seperti biasanya , seorang siswi hanya mengetuk-ngetuk mejanya dengan sebuah polpen hijau. Menatap ke segala ruangan , memperhatikan kegiatan teman-temannya. Tak sadar dia telah menyelami pikirannya yang kosong.

Rima          :”Vin! Vina ! “
Vina           :”Eh iya ? ( Terlonjak Kaget) “
Rima          :”Ngelamunin apa sih ? “
Vina           :” Nggak ada, nggak ada yang aku lamunin”
Jian             :”Bohong ! Helooooooooo ^ Kapan sih Vina bakalan jujur ke kita?”
Risa            :”Eh Ji, nggak usah nyolot dong..!!!!!”
Jian             :”Kenapa?masalah buat lo!”
Vina           :”Stop!! Kalian ini kenapa sih, nggak pagi nggak siang! Kerjaannya berantem terus!!” (memukul meja Dan beranjak pergi dari kelas seni)

Semua murid terhenti dengan kegiatannya, dan menatap dengan tanda tanya besar di jidadnya.
Rima          :”Lihat, gara-gara kalian Vina marah!”
Risa            :”Gara-gara kamu nih ji!”
Jian             :”Gara-gara kamu!”

Waktu terasa berlalu sangat cepat. Kelas seni selesai dengan sendirinya, entah apa yang terjadi pada Vina. Tapi yang jelas itu hal buruk!
Keesokan harinya ketika di kelas seni

Rima            :”Kertas oke, pensil oke, pewarna oke”
Jian              :”Udah selesai kan puisinya Ris ?”
Risa             :”Belooom , hehe”
Jian              :”Risaaaaaaaaaaaaa”
Dian            :”Kamu buat puisi Sa?”
Risa             :”Iya, kamu?”
Dian            :”Main gitar, dong”
Risa             :”Bukannya harus ada yang nyanyi ya? Kalo’ cuman main gitar kan Garing Yan”
Dian            :”Iya sih, tapi aku nggak terlalu yakin aku bisa nyanyi, kalo mainnya mah udah jago”

Risa dan Dian terhenti sejenak dan serentak menatap Vina dengan senyuman mencurigakan 
Jian              :”Udah Risa! Kerjain, tuh puisi”
Risa             :”Iya , bawel”

Yutho menghampiri bangku Rima yang terlihat sibuk sendiri
Yutho           :”Liat dong”
Rima            :”Apaan sih?. KEPO”
Yutho           :”Sombong, emangnya lagi gambar apa ? “
Rima            :”Tuh kan KEPO”
Yutho           :”Hhhh”

Di bangku lain Risa sedang menanyai Vina tentang sesuatu
Risa             :”Kamu buat apa Vin?”
Vina             :”Nggak tahu”
Risa             :”Gimana kalo’ nyanyi aja ? Bareng Dian, ntar Dian yang ngiringi sambil main gitar”
Vina             :”Enggak!! “
Risa             :”Lah kenapa? Kan kamu suka nyanyi “
Vina             :”Enggak untuk sekarang”
Risa             :”Gimana kalo’ puisi?”
Vina             :”Enggak”
Jian              :”Lebay banget sih, gitu aja kok repot? Malu ya? Nggak bisa apa-apa? (Cekikian)
Risa             :”Eh, ada yang punya lakban nggak?”
Yutho           :”Buat?”
Risa             :” Nih , ngelakban mulutnya Jian ! Eh Jian! Kamu itu baru bulan kemaren masuk kelas seni, kalo’ nggak tahu apa-apa itu jangan sok ikut-ikutan deh! Kamu itu yaa... ( Mengepalkan tangan)
Rima            :”Gimana kalo’ ngelukis?” ( Menyela perdebatan )
Vina             :”mmm ( Geleng-geleng kepala )“
Yutho           :”Gambar animasi?”
Vina             :”Apalagi itu!”
Dian            :”Nyanyi aja !”
Vina             :”Nggak!” ( Beranjak pergi dari kelas seni)
Rima            :”Pasti ada apa-apa sama Vina, nggak mungkin dia jadi kayak gitu kalo’ nggak ada alesannya, gimanapun caranya. Kita harus bisa bangkitin semangat musiknya lagi ! Apapun caranya, apapun resikonya!, Setuju?”
Semua kecuali Jian: “ Setuju” ( Menumpukkan telapak tangan masing-masing dan bersiap untuk mengangkatnya sembari teriak)
Dian            :”Kamu nggak ikut Ji ? “
Jian              :”Enggak, sori aja yaa.. What Ever .. aku nggak peduli”
Risa             :”Hu uuhh! “
Rima            :”Udah-udah jangan mulai lagi ! “ (Memegangi Risa yang sudah seperti ingin meledak)

Hari-hari berjalan dengan biasanya, hingga suatu hari misi rahasiapun dilaksanakan. Setelah mengerti tugas masing-masing, mereka melakukannya dengan penuh keseriusan, entah apa itu.. Tapi yang jelas untuk kebaikan teman mereka, Vina.
Risa             : ( Mendekati Vina yang menulis dan mencoret-coret buku diarynya)           “Kamu bisa jujur sama aku Vin, aku tahu kamu pasti lagi ada masalah , iya kan? “
Vina             :” Nggak ada kok , beneran. Aku baik-baik aja”
Risa             :”Jangan bohong, aku kenal kamu selama 9 tahun, kamu nggak bisa ngebohongi aku Vin, cerita aja ,, nggak bakalan aku sebarin ke siapa-siapa. Aku hanya ingin bantu kamu kok, nggak ada niat lain”
Vina             :”mmm “ (Berpikir sejenak)
Risa             :”Mmm?” (Menatap penuh arti)
Vina             :”Gimana perasaanmu, ketika kamu dilarang melakukan hal yang kamu suka? Apa yang bakal kamu lakuin setelah kamu sadar, nggak ada yang pernah ngedukung kamu? Nggak ada yang pernah mensupport kamu dalam menggapai mimpimu?, Gimana kalo’ mimpimu hampir musnah gitu aja? Apa yang bakal kamu lakuin dengan semua hal itu? Itu jawabanku”
Risa             :”Viin, “
Vina             :” Aku dilarang orang tuaku bernyanyi, mereka nggak pernah suka ngeliat aku main musik, kata mereka itu semua sia-sia. Mereka nggak pernah ngedukung aku dalam hal Seni, ,aku nggak berani ngelawan mereka, dan lebih parahnya lagi aku nggak berani, bahkan buat ngebayangin aja aku nggak berani, aku nggak bisa dan nggak berani bernyanyi. Aku takut , aku semakin trauma dengan musik. Bahkan ketika aku mencobanya , Aku takut mimpiku untuk bernyanyi hanyalah sebuah angan-angan yang mudah terhempas angin”
Risa             :”Emang apa mimpimu?”
Vina             :”Bernyanyi untuk semua orang, membahagiakan semua orang. Bernyanyi lewat hati, bukan hanya sekedar suara yang merdu, bernyanyi untuk mendapatkan senyuman dari pendengar, dan penenang hati ketika jiwa sedang terpuruk, itu mimpiku “
Risa             :”Kita bakalan bantu kamu, buat bangkit lagi, buat ngebagun lagi kepercayaanmu terhadap mimpi muliamu”
Vina             :”Kita?”

Tak sadar teman-temannya mengintip dibalik pintu kelas seni. Sedari tadi mereka memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Vina dan Risa
Yutho           :”Nggak masalah kok ! Kita bakal bantu kamu!”
Rima            :”Yup! Kita pasti bisa kalo kita bersama mencobanya”
Dian            :”Pasti kalian butuh seorang gitaris yang Jago kan? , aku kasih diskon deh buat kalian”
Semua                   :”Diaaan! “
Vina             :” Aku nggak tahu harus bilang apa , aku aakuu a...k..uu”
Yutho           :”Kamu nggak perlu ngomong apa-apa”
Risa              :” Kamu hanya tinggal bernyanyi”

Sesaat , terasa mendung telah berganti dengan cerahnya kapas putih, rasa keterpurukan kini berkurang sedikit demi sedikit.. Dan mulai bangkit lagi semangat musik yang entah sempat pergi ke mana kemarin
Risa             :”Apa yang harus kita lakuin?”

Tiba-tiba Jian datang dan seperti meledakkan mereka semua dengan kata-katanya
Jian              :”Aku punya Ide”
Semua                   : ( Saling menatap penuh ragu )

Keesokan harinya, ketika kelas seni dimulai..
Rima            :”Vin, ntar jangan pulang dulu yaa”
Vina             :”Emang kenapa?”
Rima            : ( Tersenyum meyakinkan )
Risa menarik tangan Vina dan menggiringnya ke aula kelas seni yang ukurannya lumayan besar
Risa             :”Sekarang, hanya ada Dian, Rima , Yutho , Aku dan Jian .. cobalah bernyanyi di depan kami”
Vina             :”Enggak mau, “ Berlari pergi keluar aula
Semua          :” Rencana A GAGAL! “ ( Sambil menggaru-garuk kepala masing-masing , yang kelihatannya tidak gatal)
Jian              :” Okey, Rencana B! “
Semua                   :”Laksanakan! “

Suatu sore di mana kelas seni berakhir, ..
Risa             :”Ikut aku !” ( Menarik tangan Vina )
Vina             :”Jangan dipaksa nyanyi lagi”
Risa             :”Em em, RAHASIA”

Teman-teman mengajak Vina ke jalan pinggiran kota, yang dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang berjalan kaki. Disiapkan 2 kursi , Dian membawa gitar ditangannya yang sudah duduk manis sambil mencoba-coba memainkan gitarnya.

Risa             :” Duduk di sana, bernyanyi untuk semua orang disini. Buat mereka hanya melihat padamu, buat mereka terpesona dengan suaramu. Kita di sini untuk mengamen, dan uangnya juga bakalan kita kasih ke Anak jalanan. Jadi buatlah banyak orang melihatmu dan memberi kita uang. Semata-mata kamu bernyanyi untuk anak jalanan itu. Bernyanyi dengan hatimu. Bukan sekedar suaramu”
Yutho           :”Sejak kapan kamu jadi puitis gitu Ris? “
Risa             :” Sejak tadi , hehe”
Mereka menjauh dari Vina dan Dian, tepatnya menatap Vina penuh arti, hingga mereka terkejut .. Tiba-tiba saja terdengar alunan musik dan suara yang mempesona

( Bernyanyi+ Main Gitar)
Plok-plok plok plok plok

Sedikit demi sedikit, orang memberi mereka uang dan meletakkannya pada sebuah tempat kecil yang memang disediakan oleh teman-teman Vina. Setelah merampungkan acaranya, mereka semua kembali kerumah masing-masing dengan pelangi dihati mereka masing-masing BERHASIL!!

Keesokan harinya di kelas seni tercinta..
Jian              :”Aku bilang apa ? aku ini amazing kan?”
Risa             :”Iya deh, percaya Miss Lebay! “
Vina             :” Jadi, kemaren itu rencananya Jian?”
Rima            :”Iya, biasalah Miss Lebay kan banyak Ide”
Yutho           :”Wah, besok udah hari terakhir loh, kalian semua udah siap kan? “
Semua                   :”Siap!”
Vina             :”Aku punya ide”
Semua                   :”Apa?”
Vina             :”Tunggu, besok yaa”
Semua                   : “Hhhhhh” -_-

Ketika semua masalah mulai teratasi, mereka semua mulai mempersiapkan diri untuk dokumentasi penilaian karya seni mereka masing-masing. Orang Tua Vina yang tiba-tiba saja mendukungnya untuk bermusik membuat Vina sempat ingin jatuh pingsan. Tanpa disangka-sangka orang tua Vina melihat ketika Vina mengamen di pinggir kota.Itu membuat orang tuanya terenyuh dan mendukung anak sematawayangnya itu untuk bemusik. Dan melanjutkan mimpinya
 Dan hari yang di nanti-nanti itupun datang, mereka semua terlihat bahagia dengan mentari mereka masing-masing. Daan..
(Vina dan Dian bernyanyi , dengan lagu ciptaan mereka sendiri )
Teman-teman yang lain menunjukkan karya seni mereka dengan bangga
Satupersatu mereka maju dengan memperagakan karya mereka.

Risa             :Menulis Puisi
Rima            :Melukis
Yutho           :Menggambar
Jian              :Membaca puisi
Dian            :Bermain gitar
Vina             :Bernyanyi

Tak terasa, dokumentasi mereka terasa lama dan pertunjukkan terakhirnya Vina , Risa, Rima , Yutho, Dian, Jian didudukkan di 6 kursi yang berjejer rapi sambil berkata
Dian            :” Mimpi, sulit untuk membayangkannya.. Tapi bersama, aku bisa melakukan dan membayangkannya, bahkan bayanganku lebih indah dari tujuan awal mimpiku”
Risa             :” Tak sadar, aku bersama kalian.. Bersama kalian aku percaya, mimpiku bukan hanya sekedar mimpi.. Tapi sebuah jalan yang bernama dan sebuah tujuan hidupku yang menjadikannya lebih indah”
Yutho           :” Bahkan ketika aku akan jatuh dalam lubang gelapku, kehilangan mimpiku. Kehilangan semangatku , aku bisa kembali bangun, bangkit dari keterpurukkanku sendiri”
Rima                      :” Karena aku bersama kalian, yang selalu ada untukku, mewarnai hidup dan mimpiku, mengulurkan tali untuk mengangkatku keluar dari lubang gelapku, “
Jian              :”Untuk bangkit kembali , menatap mimpiku, karena bersama kalian aku percaya , mimpi bukan hanya untuk orang-orang yang berbakat, tapi mimpi adalah milikku , dan milik semua pemimpi”
Vinaa             :” Dan Ketika kamu ingin bermimpi , hendaklah kamu menutup mata terlebih dahulu. Karena dengan begitu, kamu tak akan memperdulikan apa kata orang lain tentangmu, dan tentang mimipimu. Tapi kamu benar-benar menghadapi dirimu sendiri. Dan setelah kamu membuka mata, kamupun akan berkata AKU PERCAYA PADA MIMPIKU AKU TAK BOLEH MENYERAH PADA MIMPIKU”
Bernyanyi bersama lagu Capuccino ~ Bersamamu


Dibuat oleh        :
                                1. Alvina Octaviani Putri
                                2. Jian Rizki
                                3. Risa Nurwahyuni
                                4. Rima Ayu Fitli Sarasati
                                5. Yutho Fatwa
                                6. Dian Siswo Wibowo


0 komentar:

Posting Komentar

Jika ada yang kurang jelas atau terjadi kesalahan dalam artikel di atas, tolong beri tahu kami dengan berkomentar. Mohon berkomentar dengan santun dan mengedepankan akhlak mulia. Terima Kasih.