Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

CERITA ASAL USUL PESUT MAHAKAM




Pasa dan Uta
(Taza Yuniar Salsabila)

Kuceritakan tentang sebuah kisah kawan, kisah yang belum pernah bisa kulupakan dan mungkin bisa menjadi kisah yang terdapat pelajaran didalamnya. Tapi, tunggu dulu. Bukan. Bukan aku yang megkisahkannya. Cerita ini datang dari sebuah saung reyot ditengah pematang sawah. Sawah itu kelihatan masih hijau, dan ditumbuhi padi yang masih berjarak jarak karena memang baru di tanam oleh buru tani pagi tadi. Sudah ada 7 orang anak yang duduk melingkar di saung itu. Semuanya laki-laki yang masih remaja. Mereka sedang bercengkrama di atas saung itu. Rambut cepak mereka tertiup angin sepoi-sepoi. Ya udara siang itu cukup sejuk meskipun sinar matahari seakan membakar ubun-ubun. Untung saja, atap saung yang terbuat dari ilalang kering menjadi penangkal yang bersahabat dari sengatan matahari yang sedang badmood hari itu.
Anak itu, anak laki-laki yang paling jangkung diantara yang lainnya. Rambutnya yang cepak sudah mulai lepek karena peluhnya terus berjatuhan. Bola matanya bulat cokelat memancarkan kecerdasan. Kulitnya bisa dibilang sawo matang. Nah, kita sebut saja anak ini sang pendongeng. Seperti yang sudah kau duga kawan, dari sang pendongeng inilah mengalir sebuah kisah yang bahkan tidak bisa aku lupakan.
“Ehem.” Sang Pendongeng berdehem seraya membetulkan posisi duduknya. Suara riuh rendah teman-temannya surut, berganti dengan suara gemerisik padi yang tertiup angin.
“Nah kawan, aku punya sebuah cerita. Mau kau dengar tidak?”
“Bah, kau ini Ris! Kita ini teman, bahkan jika cerita itu hanya bualan kau, kita akan tetap mendengarkannya,” salah satu temannya menjawab
“Ayolah Ris, kita ini selalu suka tentang kisah-kisah kau selama ini, mana mungkin kita tak mau mendengar? Betul tidak?” teman lainnya menyahut
“BETUL!!!” satu saung menjawab serentak, kemudian disertai dengan gelak tawa.
“Baiklah aku akan bercerita….”
“Eh tunggu dulu Ris, boleh Tanya nggak? Itu ceritamu apakah pernah terjadi di kehidupan nyata?” seorang anak yang kurus kecil dan berkacamata tiba tiba memotong cerita sang pendongeng. Terlihat sekali dia berbicara dengan logat Jakarta, wajahnya putih dan paling bersih diantara keenam teman lainnya.
“Yit, Prayit… tak peduli lah itu benar adanya atau hanya bualanku semata, selagi cerita itu bisa menghibur kau, perlukah dipertanyakan apakah cerita itu nyata atau tidak? Karena kalau menurutku itu tak perlu, benar tidak anak kota?” Sang pendongeng menjawabnya dengan wajah yang bersahaja ditambah dengan seringai misteriusnya –kombinasi mimik wajah yang ajaib-. Sedangkan temannya yang bernama Prayit tersebut salah tingkah. Dan sekarang seisi saung sedang menertawakan dirinya.
“Baiklah-baiklah kawan, aku mau melanjutkan kisahnya”
Dan mengalirlah kata demi kata dari mulutnya, dirangkainya menjadi sebuah kisah, teman temannya khidmat mendengarkan.
Kau mau tau kisah itu kawan? Baiklah, baiklah beginilah kurang lebih kisah yang diceritakan oleh sang pendongeng siang itu.
*******
            Kisah ini diambil dari sebuah kampung kecil di dekat sungai Mahakam hulu. Tentu saja, tanahnya terjamin subur, tidak pernah kekeringan, jarang gagal panen. Rakyatnya senang dengan segala kecukupan yang ada, santun, dan selalu gotong royong. Di kampung ini pula, hidup keluarga kecil bersahaja, setiap pagi Ayahnya pergi ke ladang, ibunya menenun kain dan mengurus kedua buah hatinya. Si sulung,  bernama Pasa. Rambutnya ikal kulitnya sawo matang, perawakannya tegap. Kata tetangga sebelah rumah, ia lebih mirip Ayahandanya. Sedang si bungsu, bernama Uta. Ah, bagaimana mendeskripsikan si bungsu ini? Mata lentik, pipi tembam, dan menggemaskannya setengah mampus. Tentulah dua anak itu menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya.
            Namun, hidup tidak terus menerus tenang-tenang saja, tak disangka sang ibu yang sehat-sehat saja tiba-tiba terjatuh dari undak-undakan rumah panggung mereka. Pingsan. Tak sadarkan diri. Si bungsu Uta yang usianya belum genap 5 tahun saat itu menangis sejadi jadinya sedangkan Pasa berlari ke ladang menjemput Ayah yang sedang bekerja disana. Sang Ayah pulang kerumah, mendapati tubuh istrinya yang pucat dan bibir mulai membiru. Tak putus asa sang Ayah menggendong ibu ke rumah tetua kampung yang sekaligus menjadi tabib. Diperiksanya denyut nadi di leher ibunda
“Maafkan aku nak, istri kau sudah tiada. Sudah terlambat. Sabarlah nak, sabar..” sang tabib berkata kepada Ayah sambil menepuk-nepukan pundak Ayah. Rasa-rasanya tubuh Ayah dua orang anak itu seperti disiram seember air es. Pasa dan Uta memeluk kaki Ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Apakah tidak ada harapan lagi kai2?” Ayah memohon. Tapi tabib itu hanya menggeleng pelan. Pasa dan Uta menangis sejadi-jadinya. Hari itu hari rabu dan usia mereka bahkan belum genap 5 dan7 tahun.
Seperti yang kau duga, kehidupan keluarga itu berubah 180 derajat. Sang Ayah semakin hari semakin murung sejak sepeninggalan istrinya. Ia tidak lagi bekerja di ladang seperti bisaanya, hanya murung di dalam bilik kecilnya. Merenungi nasib. Kedua anaknya, Pasa dan Uta bukan anak yang selalu ceria lagi, seakan keceriaan itu direnggut oleh langit, mereka selalu murung juga terlihat tak terurus. Bahkan untuk urusan makan saja mereka hanya mengharap belas kasian dari tetangga yang merasa iba. Semua begitu kontras sekarang.
******
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun berganti, kehidupan Pasa dan Uta masih belum banyak berubah semenjak kejadian 8 tahun yang lalu. Sejak ibunya kembali pada Sang Maha Pencipta. Sang Ayah mulai pulih, meski ia sangat jarang bicara, dan kedua anak itu sudah terbiasa dengan tabiat baru Ayahnya  itu.
Ayahnya juga masih belum ingin mencari pendamping hidup baru, di kekeuh bilang bahwa ia masih cinta pada istrinya. Padahal tetangganya sudah banyak yang menyarankan agar dia mencari istri lagi, hali itu tak lagi digubrisnya. Tapi, semua itu berubah di suatu malam.
“Bang! Bang Muklis!” Nanang, teman berladang sekaligus tetangga memanggil manggil nama Ayah yang sudah meninggalkan ladang. Hari sudah mulai petang. Ayah berhenti, lantas menoleh kearah nanang.
“Ada apa Nang?”
“Ehm, begini Bang, nanti ada pasar malam di dekat balai kampung. Abang nak ikut? Ikut lah bang! Jangan berdiam diri di bilik saja, abang ni butuh hiburan.”
“Tak usah lah nang, kau saja dengan teman-teman yang pergi” Ayah menjawab datar.
“Ayolah Bang, aku ini memaksa! Kali ini saja abang turuti adik abang ini” Nanang memaksa, dia memasang wajah jailnya.
“Jangan Nang, kasihan Pasa dengan Uta. Dirumah sendirian.”
“Amboii! Mereka sudah besar Bang, mereka bukan anak kecil lagi. Ikutlah Bang sekali saja demi Adik kau ini. Abang ni butuh hiburan, ayolah Bang. Ini permintaan pertamaku kan?” Dasar Si Nanang memang pandai bersilat lidah, Ayah yang jelas jelas kalah jika beradu argumen dengan Nanang akhirnya mengangguk setuju.
“Sampai jumpa nanti Bang, kujemput Abang dirumah!”seru Nanang dengan suara penuh kemenangan.
*******
            Malam itu Nanang sudah bersiap di teras rumah Pasa dan Uta, dengan penmpilan yang dikata agak necis. Rambut klimis, kemeja disetrika rapi, ikat pinggang juga mengkilap macam habis dipulas.
            “Lha, Bang Nanang mau kemana? Tumben rapi.” Pasa yang dari tadi memperhatikan Nanang akhirnya berkomentar juga
            “Kau diamlah Pasa. Urusan orang besar ni. Hehehh” katanya lantas terkekeh.
            “Ayah ikut Bang Nanang juga ?” Uta juga bertanya kepada Ayahnya yang baru keluar dari bilik.
            “Iya. Ayah ada urusan dengan Bang Nanang. Nah, kalian baik-baik di rumah. Makan sudah?” Katanya singkat dengan tampang ogah-ogahan. Kedua anak itu mengangguk. Lalu berangkatlah kedua orang itu. Malam itu langit berhias bintang-bintang. Malam itu bulan sabit menggantung terang benderang. Malam itu Sang Ayah bertemu dengan seseorang.”
*******
Suasana di pasar malam itu sangat ramai, penuh sesak dengan orang, bahkan rasanya seperti kehabisan oksigen. Pasar malam itu sangat ramai, bahkan sampai pengap dan tercium berbagai macam bau. Bau parfum menyengat, hingga bau peluh yang kurang sedap bercampur jadi satu menusuk hidung.
Nanang yang dari tadi sudah hinggap sana hinggap sini, ajak ngobrol sana aja ngobrol sini, dari tadi belum menunjukkan tanda tanda ingin pulang. Padahal Ayah sudah dari tadi ingin pulang. Disini sangat ramai dan itu tidak cocok dengan Ayah yang sangat amat pendiam.
“Ayolah Bang, santai sikit. Marilah kita bersenang senang!” yang diajak bicara malah menatap datar. Tidak menghiraukan wajah semangat Nanang.
“Aku tunggu disana saja, disini ramai. Pusing aku.” Ayah akhirnya angkat bicara, sambil menunjuk sebuah warung yang memang terlihat agak sepi. Ayah lebih memilih duduk disana dan minum kopi dibanding berkeliling pasar malam yang seperti kandang ayam. Penuh sesak.
Brakk!! Bahu Ayah ditabrak oleh seorang pria yang lari tergopoh-gopoh, wajahnya tidak terlihat karena ia berlari seperti dikejar hantu.
“Jambret!! Woy Jambrett!! Mas, mas tolongin mas itu tadi dia jambret, tas saya… tas sayaa…” belum selesai orang itu bicara, Ayah sudah lari menyusul penjambret. Jambret itu lihai, lincah. Tapi, Ayah juga tidak mau kalah. Singkat cerita Ayah menangkap jambret itu dengan bantuan beberapa orang yang mau menolong. Sedangkan jambret malang tersebut harus sudah siap diarak keliling kampung macam maling ayam besok paginya. Ayah pun menyerahkan tas yang dijambret tadi kepada pemiliknya.
“Trimakasih Bang.” Dia seorang perempuan, perempuan yang cantiknya bisa dibilang ada di urutan ketiga setelah Istrinya dulu dan Uta. Ayah jatuh hati padanya. Jatuh hati pada tatap mata pertama. Jatuh hati yang kedua kalinya. Malam itu langit berhias bintang-bintang. Malam itu bulan sabit menggantung terang benderang. Malam itu semesta menakdirkan mereka untuk bertemu.
*******
Selepas pertemuan pertama itu, beberapa bulan kemudian mereka berdua menikah, saling bertukar janji suci. Pasa dan Uta mempunyai ibu tiri baru. Tapi, mereka tidak suka ibu tiri mereka yang baru. Mereka lebih suka Ibu nya yang lama dulu.
“Memang belum kenal, nanti lama-kelamaan kau akan mengenalnya dengan baik nak. Sesungguhnya dia adalah ibu yang baik. Ibu kau yang baru.” Ayah hanya berkata seperti itu di hari pernikahan keduanya. Pasa dan Uta tidak mengangguk tidak juga menggeleng. Sungguh, demi langit biru yang cerah hari itu, mereka tidak setuju.
            Hari berganti hari, kehidupan di keluarga itu mulai berganti. Ayah mulai lebih giat bekerja karna memang ada yang mendukung dirinya. Bahkan rencananya Ayah akan beternak ikan nila sebagai sampingan selain berladang. Pekerjaan Ayah di ladang juga mulai berubah. Panen lebih cepat, hama bukanlah suatu ancaman lagi. Ayah sudah macam insinyur pertanian saja.
            Pasa dan Uta? Ah yaa, dia masih belum bisa menerima Ibu tirinya, Dewi Sri. Padahal ibunya yang baru itu sayang kepada mereka, tidak peduli itu anaknya atau bukan. Dan Dewi Sri tau bahwa Pasa dan Uta tidak begitu suka dengan dirinya, tapi dia selalu berdoa supaya nantinya anak-anak itu bisa menerimanya.
“Dinda, mungkin impian kita tentang beternak ikan akan segera terwujud!” Ayah berseru saat makan malam bersama.
“Syukurlah Bang, Dinda ikut senang.”
“Wah sekarang Ayah bertambah hebat saja” sambar Uta
“Itu berkat Ibu kau yang cantik ini nak! Dia selalu dukung Ayah kau ini” Ayah berkata dengan bangga. Wajah Uta berubah menjadi datar. Dingin.
“Ah, Abang ini bisa saja! Eh, maksud Ayah itu semua berkat keluarganya yang selalu mendukung dia termasuk anak-anaknya yang baik ini” sambar Dewi Sri untuk memperbaiki keadaan. Terlambat telinga Pasa dan Uta terlanjur panas.
“Oh iya Bang, kalau Abang ingin beternak ikan di Mahakam kenapa kita tak pindah rumah saja ke tepian Mahakam? Agar lebih dekat jika ingin mengurus ikan ikannya” Dewi Sri angkat Bicara lagi.
“Usulan bagus dinda, besok Abang akan cari lahan kosong di tepian Mahakam lalu kita bisa pindah…”
“Pasa tidak setuju!”
“Uta juga.”
“Apa hal ini? Kenapa kalian tak setuju nak?” Ibu tirinya bertanya
“Tak usahlah Dewi jadi perhatian. Dewi ingin memisahkan kita dari rumah ini dari semua kenangan Ibu kan? Maaf Dewi, kami tidak bisa begitu saja melupakan beliau!”
“Cukup! Pasa! Jaga bicara kau! Itu Ibumu! Bukan pembantumu! Bicara padanya yang sopan!” gawat. Ayah marah.
“Ayah memang selalu membela dia”
“Beeeraaniiiii kauu!!!” PLAK! Telapak tangan ayah mendarat di pipi putra sulungnya.
“Cukup Bang! Itu Pasa Bang, Pasa! Itu Putra kau, jangan kau sakiti dia Bang” Ibu Tiri itu memegang tangan ayah, mencegahnya jangan jangan akan ada adu tangan lagi.
“Suka tak Suka, pekan depan kita pindah ke tepian Mahakam! Titik!” ayah meninggikan suaranya dan menatap tajam kepada Pasa
Brak!! Pintu ditutup. Ayah keluar. Kemudian, Pasa meninggalkan tempat makan. Uta mengikuti dibelakangnya. Tinggallah Dewi Sri seorang diri. Hatinya remuk. Makan malam hari itu berubah jadi bencana
“Lihat? Kau selalu membuat kekacauan dirumah ini, IBU!” Uta berkata pelan. Namun menusuk. Hati wanita itu hancur. Ia menangis tapi air mata tak mau keluar.
*******
            Perkataan ayah tak gertakan sambal biasa. Pekan ini mereka sekeluarga sudah berpindah rumah dekat tepian sungai Mahakam. Ditinggalah semua kenangan yang ada di rumah itu. Pasa dan Uta mau tak mau harus tetap ikut pindah, meskipun penuh dengan ketidaksukaan.
            Hebat. Hari demi hari usaha ayah membuat keramba ikan di sungai semakin sukses. Banyak keuntungan yang didapat dari hasil menernak ikan. Belum lagi ladang ayah yang cepat panennya tanpa ganngguan membuat keluarga kecil itu hidup makmur.
            Namun, dikala ada kesuksesan pasti disitu ada mulut pendengki yang penuh cacian. Dari mulut itulah timbul fitnah fitnah yang melanda keluarga ini. Mereka iri. Mereka dengki. Mereka tidak punya hati.
“Pastilah sekarang si Muklis hidup makmur, orang istrinya itu Titisan ikan di Mahakam ini!”
“Istri si Muklis hanya main tampang cantik saja, padahal tabiatnya bukan main!”
“Jangan-jangan Si Muklis dan Istrinya itu pelihara pesugihan! Bukan main!”
“Istri Si muklis itu bukan manusia bisaa, dia makhluk ghoib! Aku pernah melihatnya nyebur ke Mahakam pagi buta! Bayangkan, Pagi buta!”
“Jangan-jangan dia siluman!”
“Iya, jangan jangan dia siluman ikan”
“Kita tidak boleh hanya diam saja!”
            Begitu kurang lebih rumor mengada-ada yang diciptakan lisan pendengki itu. Sungguh tak tahu malu. Kalau begini kuping siapa lagi yang panas? Pastilah kuping kedua anak yang mulai beranjak remaja ini. Pasa dan Uta.
“Dinda tak usah masukkan ke hati apa yang orang-rang itu bicarakan. Mereka hanya iri melihat kesuksesan Abang.” Kata ayah sambil menepuk-nepuk pundak istrinya.
“Dinda tidak pernah peduli apa yang mereka bicarakan Bang, asal Suami dan anak-anak Dinda tidak mempercayai bualan kotor mereka. Sungguh Dinda tidak sedang sakit hati”
*******
            Hari itu, panas matahari seakan membakar ubun-ubun. Ranting kayu yang ditancapkan ke tanah dan ujungnya diikat dengan senar tidak menunjukkan adanya ikan yang tersangkut. Hari itu panas matahari seakan membakar ubun-bun. Pasa dan Uta kelelahan.
“Sudahlah Bang, hari ini memang tak ada ikan! Marilah kita pulang saja!”
“Tumben sekali, tak ada satu ikan pun yang terkait di di pancing kita. Pertanda apa ini Adikku?”
“Sudahlah, mari kita pulang.” Uta lebih dulu jalan menjauhi sungai. Bergegas pulang. Akhirnya Abangnya pun mengikuti dibelakangnya.
“Amboi, amboii! Tak dapat ikan kah? Mengapa tak minta kepada ibu kau yang titisan ikan itu hah?” sepasang suami-istri bermulut cencala3 tiba tiba menyahut dari teras rumah mereka.  
Pasa dan Uta diam saja.
“Jadi ini anak si Makhluk Ghoib itu?” tetangga lain ikut bersahutan
“Heh Pasa! Bilang ya sama Ibu kau! Jangan coba-coba mengganggu ketentraman di kampung ini! Dasar anak siluman!”
“Jaga mulut Amang!” Uta yang dari tadi menahan marah. Akhirnya meletup juga. Raut mukanya memerah.
“Asal Amang tau, dia bukan Ibu kami. Ibu kami sudah meninggal.”
“Mau ibu kau lah, mau pembantu kau lah aku tak peduli! Dia itu berbahaya! Dia silumaaannn! Dan kau, kalian berdua juga Anak seorang siluman!”
Baru sepersekian detik ia selesai bebicara, Tinju Pasa sudah mengenainya tepat di wajah. Darah segar mengucur dari hidungnya. Wajahnya merah padam antara menahan marah dan menanggung malu.
“Jangan coba-coba kasar di depan Uta.” Pasa menjawab dingin.
“Bang! Sudah-sudah mari kita pulang saja! Tak usah dihiraukan mereka.” Mata Uta membelalak, takut karena abangnya jadi sedingin itu.
“Beginilah aturan anak Siluman! Tak tahu malu!”
“Berkata satu patah kata lagi, habis kau!”
“Sudah Bang, ayo kita pulang! Sekarang Bang!” Uta sudah menarik tangan Abangnya. Mereka kembali ke rumah.
*******
“Perempuan itu membuat nama baik keluarga kita tercoreng…”
“Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh tetangga itu benar adanya Bang. Jangan-jangann ddd… dia.. adalah seorang silumaan…”
“Siluman atau bukan aku akan mengusirnya hari ini juga” mereka berdua berjalan beriringan dengan langkah yang besar-besar. Celotehan tetangga-tetangga itu sudah tertinggal di belakang. Yang ada kini sebuah rumah. Rumah di tepi Mahakam. Di sinilah nanti amarah mereka meluap, bagai gunung Krakatau yang sanggup memisahkan dua pulau.
*******
Brak! Pintu kayu tidak bersalah itu dibuka dengan kasar. Dewi Sri yang sibuk menanak nasi di dapur terkejut. Tapi, belum sempat dia beranjak dari dapur, Pasa dan Uta sudah berada di pintu sekat antara dapur dan ruang tengah. Berdiri dengan wajah yang menyiratkan amarah dan Dewi Sri tahu itu.
“Kalian rupanya.. ibu sampai terkejut nak. Bagaimana memancingnya hari ini? Dapat ikan tak?” dia berkata seceria mungkin tapi dia tidak bisa berbohong. Itu terlihat dari bibirnya yang bergetar.
“Tidak perlu berbasa-basi, IBU! Aku ingin kau pergi dari rumah ini. Tinggalkan keluarga kami.” Uta pertama kali angkat bicara
“Ibu tidak mengerti nak, apa yang kau bicarakan. Apakah kau sedang ada..”
“Apakah kau tidak dengar apa yang Adikku katakan? Segeralah pergi sebelum aku yang menyeretmu keluar!” PRANGG! Kendi yang berada disampingnya telah jatuh menyentuh lantai. Tak tau berapa kendi lagi yang akan menjadi korban.
“Dengarkan Ibu dulu nak, Ibu masih tidak mengerti apa yang kau bicarakan..”
“Kau bukan Ibuku.”
“Aku Ibumu Uta, meskipun aku tidak melahirkanmu, aku akan selalu jadi Ibumu” Dewi Sri berkata dengan terisak. Air matanya sudah pecah beberapa detik yang lalu. Dia mengatakan itu dengan tulus. Sungguh dengan tulus.
“Asal kau tau kau bukan Ibu kami ataupun Ibu siapapun. Kau seorsng siluman, siluman ikan!” meluap sudah amarah Pasa. Dihempaskannya wadah nasi yang baru matang. Warna putih berceceran di lantai rumah. Dewi Sri berhenti menangis seketika.
“Akan kukatakan semuanya padamu Pasa dan Uta. Aku tidak pernah sakit hati walau kau membenciku, kau memakiku, kau mempermalukan aku. aku tau kalian masih tidak bisa menganggap aku ibumu. Tapi, demi langit yang biru aku tidak bisa menerimanya jika kau lebih percaya perkataan orang lain tentangku. Aku sakit hati. Dengar ini nak, AKU SAKIT HATI” saat itu langit yang cerah berubah menjadi kelabu pekat. Sang langit mendengar rintihan wanita ini. Ia mulai terisak. Ia jelas sekali kecewa.
“Wahai penguasa langit! Aku sakit hati, bukan kerena mereka memakiku, tapi karena dia tidak percaya lagi padaku. Hukum! Hukumlah mereka! Kutuk! Kutuklah mereka. Sungguh mereka telah membuat Ibunya sakit hati!”  Dewi Sri duduk bersimpuh memohon pada penguasa langit. Dan hari itu Langit mendengarnya.
Kilat kian menyambar-nyambar. Kakak beradik itu mulai gentar. Amarahnya berganti dengan kengerian. Mereka menjauh, dari Dewi Sri. Namun sayang, sepasang kaki mereka menginjak nasi yang tumpah ke lantai tadi. Nasi itu entah kenapa menjadi sangat panas hingga kaki keduanya melepuh. Mereka panik, sungguh panik. Akhirnya tanpa pikir panjang larilah keduanya ke sungai Mahakam untuk merendam kakinya yang sudah melepuh yang kulitnya sudah mengelupas. Saat merendam kakinya ke sungai entah mengapa tubuh mereka berdua seperti terbakar. Refleks, mereka berdua menceburkan diri ke Mahakam. Tidak disangka-sangka mereka makin menggeliat-liat sejadi-jadinya.
“Wahai Penguasa Langit, kutarik lagi semua perkataanku kepadamu. Aku memaafkan mereka! Aku memaafkan mereka sungguh! Karena aku adalah Ibunya, aku tak tega wahai langit!” Dewi Sri panik lantas menarik lagi kata-katanya
Kakak beradik itu berhenti menggeliat. Dewi Sri bernapas lega. Kini dia memaafkannya. Kini dia tidak lagi sakit hati. Tapi tampaknya, permohonannya tadi tidak bisa ditarik begitu saja.
Terkagetlah Dewi Sri ketika melihat di sungai ia mendapati kedua anaknya telah berubah jadi ikan. Kaki yang tadi melepuh berubah menjadi ekor yang menyatu. Badannya berubah menjadi kelabu. Dewi Sri sungguh tidak percaya, kedua anaknya telah menjadi sepasang ikan yang kepalanya mirip manusia. Ternyata, keputusan langit saat itu tidak dapat berubah. Tidak ada yang bisa merubah perkataan Ibu yang telah sakit hati.
*******
Akhirnya cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Mereka penasaran dengan kehadiran ikan aneh itu. Dan ikan itu disebut sebagai ikan Pasut dari nama Pasa dan Uta yang termakan amarahnya sendiri. Dan kuberitahu satu hal kecil lagi. Ikan pasut itu lebih dikenal sebagai, Pesut Mahakam.
Berakhirlah kisah itu. Semua yang ada di saung reyot itu menahan napasnya. Tampaknya Sang pendongeng menceritakannya dengan sangat baik.
“Maka dari itu teman, jangan kau berani dengan mak bapak kau!”
“Betul kata si Joni ini!” Sang Pendongeng setuju. Lagi-lagi seisi saung tertawa
“Ris, Aris. Apakah pesut Mahakam itu nyata? Tanya anak kurus, berkacamata yang tidak lain adalah Prayit
“Heheh,, begini teman….” Belum sempat Sang Pendongeng menjawab, ia telah ambruk di samping saung. Mrintih kesakitan. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah ia tergigit oleh ular sawah. Satu saung panik! Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kau! panggil Bapaknya Aris! Cepaaaaaat!!!” tiga anak berlari, menyusul ayahnya.
Semua terjadi begitu chaos siang itu. Aris yang tak lain adalah Sang Pendongeng dibopong menuju posyandu. Penanganan yang begitu lambat, membuat ia tak tertolong. Ia meninggal Senja itu saat matahari mulai menampakkan sinar jingganya. Senja itu tidak pernah terlupakan. Dan pada senja itu pula satu pertanyaan belum sempat terjawab.
*******
Tapi, siang ini di ruangan bersih wangi nan nyaman ini pertanyaan itu terjawab. Ku buka mesin pencari yang memang tergeletak di meja kerjaku. Mengetik sesuatu, dan langsung menemukan banyak laman hanya dalam waktu sepersekian detik. Lantas ku klik salah satu artikel. Loading.
“Bapak Prayit, rapat akan segera dimulai, Pak” Sekretarisku berkata sopan.
“Lima menit lagi saya kesana.” Kataku sambil mengangguk.
Kutengok lagi layar si mesin pencari. Lantas kutemukan jawaban itu. Nama: Pesut Mahakam. Nama Latin: Orcaella brevirostris. Habitat: Sungai Mahakam, Kalimantan. Status: TERANCAM PUNAH.



CERITA ASAL USUL GUNUNG MERAPI



MERAPI BERAPI-API


Sudah hampir sembilan tahun setelah menikah pasangan suami ini belum dikaruniai seorang anak pun. Dengan keputusan yang sangat berat untuk dilalakukan, sang suami pun memutuskan untuk pergi bertapa demi mendapatkan seorang anak. Walaupun istrinya melarang keras untuk berangkat, tapi sang suami masih tetap bersikeras ingin pergi bertapa.
Disebuah desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Merapi. Ia tinggal disebuah gubuk kecil yang sudah tak layak lagi untuk ditinggali, bersama kakeknya yang sedang sakit keras yaitu Mbah Marijan. Merapi merupakan seorang yang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Setiap pagi menjelang siang, dia menjadi buruh tani di sawah milik tetangganya. Saat sore dia pergi ke laut menangkap ikan untuk dijual ke pasar keesokan paginya. Seperti biasanya, Merapi menjual ikan-ikan hasil tangkapannya di emperan kios pasar. Merapi tidak sanggup menyewa kios untuk berjualan. Walaupun hanya bermodal ikan, ember, dan neraca, jualannya selalu habis tanpa sisa. Uang hasil penjualan ikan tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama Mbah Marijan.
Burung berkicau seakan menyanyikan lagu-lagu syahdu. Suasana pasar pun masih tetap sama seperti biasanya. Suara orang-orang yang berseru menawarkan barang dagangan mereka masing-masing membuat suasana pasar menjadi ramai. Merapi dengan semangatnya berteriak menawarkan ikan hasil tangkapannya kepada orang-orang yang sedang berlalu-lalang. “Ikaaaaan ikaannn, ini ikannya masih segar Bu, silahkan dibeli. Ini baru saya tangkap tadi shubuh Bu. Silahkan pak, ini masih segar-segar ikannya.” Itulah kalimat yang selalu diucapkan Merapi menjual ikan-ikan tangkapan hasil jerih payahnya.
Seorang wanita cantik berkulit kuning langsat dengan rambut panjangnya yang terurai diterpa angin sedang menawar sayuran kelihatannya tertarik dengan semangat Merapi dalam melakukan barang dagangannya.  Wanita itu pun menghampiri Merapi.
“Mas jualan ikan apa aja ?”
“Banyak mbak,  ini silahkan dilihat ikannya masih segar-segar hasil tangkapan tadi pagi. Mbaknya mau beli yang mana?”
“Ini namanya ikan apa ?”
“O ini ikan bandeng mbak.”
“Kalo yang ini apa ?”
“Ini ikan tenggiri mbak, tadi pagi saya cuma dapat 17 ekor saja. Yaa sepertinya saya belum beruntung, padahal ikan tenggiri ini ikan paling laris biasanya.”
“Kalo yang itu namanya ikan apa ?”
“Yang kanan atau yang kiri mbak? Kalau yang kanan ini ikan makerel sedangkan yang kiri ikan bawal mbak, mbaknya mau beli yang mana ? Kalo mbak mau yang lebih enak lagi ada mbak ikan kerapu harganya terjangkau dan alhamdulillah masih segar saya tadi nangkap dapat banyak ”
“Bandeng sekilonya berapa ?”
“Bandeng 12 ribu per kilo mbak”
“Tenggiri tadi berapa sekilo?”
“Nah kalo yang tenggiri 23 ribu per kilo mbak”
“Bawal berapaan?”
“Ikan bawalnya 25 ribu an mbak”
“Ada udang sama cumi nggak ?”
“O iya mbak ini ada .. sebentar saya angkat kesini dulu embernya. Ini mbak, ini cumi-cumi dan ini udangnya. Besar-besar kan mbak ? Harganya murah kok mbak kalo dibanding pedangang lainnya. Saya saja cuma dapet untung 2 ribu sampai 5 ribu doang.”
“Ya sudah mas saya mau pulang dulu, sudah hampir siang. Permisi.”
Setelah bertanya-tanya sebanyak itu wanita cantik tersebut pergi tanpa menoleh lagi sedikit pun. Merapi hanya bisa berdoa agar tetap diberi kesabaran dalam berjualan. Pagi itu tidak seperti biasanya dagangan Merapi belum habis. Baru pertama kalinya ia mendapat uang hanya seperempat dari pendapatan biasannya. Tapi Merapi tetap bersyukur dan pulang ke rumah membawa bungkusan nasi dengan wajah sumringah. Kakeknya duduk di depan teras menunggunya pulang dari pasar.



***
Pagi ini hasil tangkapan Merapi tidaklah banyak seperti biasanya. Merapi bersiap-siap ke pasar untuk menjual ikan-ikan tersebut dengan bantuan Mbah Marijan. Tiba-tiba beberapa kereta kuda mewah berhenti di depan rumahnya. Ia heran, bagaimana bisa kereta kuda semewah itu masuk ke dalam desanya yang sempit dan buruk seperti itu? Tidak lama kemudian dua orang pengawal berbadan kekar membukakan tirai kereta kuda tersebut. betapa kagetnya Merapi bahwa orang yang turun dari mobil tersebut adalah seorang wanita cantik yang menawar ikan-ikannya kemarin dan terrnyata tidak betniat membelinya. Tapi ada seorang tua di sebelahnya apakah itu ayahnya? Sepertinya dia sedang tidak sehat.
"Assalamualaikum"
"Wa..waalaikumsalam warrahmatulllahi wabarakatuh. Eh ini bukannya mbak yang kemarin hendak membeli ikan tapi tdak jadi ya? Mari pak, mbak, silahkan masuk ke gubuk kami."
"Oh tidak usah repot-repot, cukup disini saja kok nak"
"Haduh pak maaf saya belum berangkat ke pasar, ini masih siap-siap. Bapak mau beli ikan apa pak? Sebentar biar salah pilihkan yang besar-besar."
"Oh tidak nak, tujuan kami kemari tidak untuk membeli ikan. Aku Raja Agung, raja dari kerajaan seberang desa ini. Sedangkan ini putriku, namanya Rinjani. Aku berkunjung kemari berniat untuk menawarkan sesuatu kepadamu. Jadi kemarin putri sematawayangku, Putri Rinjani, menyamar menjadi orang biasa penduduk desa ini dengan tujuan untuk mecari orang yang dirasa pantas menjadi pendamping hidupnya kelak. Padahal banyak sekali saudagar kaya, para bangsawan bahkan putra mahkota yang ingin sekali melamarnya. Tetapi ia tidak mau, ia menolak semua tawaran dari mereka, dan lebih memilih untuk menikah dengan pilihannya sendiri. Setelah pulang dari pasar kemarin dia kembali ke kerajaan dengan wajah sumringah. Lalu dia bercerita banyak tentangmu. Dia menyuruh beberapa pengawal untuk mencari seluk beluk keluargamu serta apapun tentangmu. Dia sangat mengagumi kesabaranmu atas perlakuanmu kemarin. Dia juga merasa bahwa kamu pantas untuk menjadi suaminya. Jadi aku kemari untuk menawarkan apakah kamu mau menjadi suami dari putriku? Aku tidak memaksa kamu menerima tawaranku, tapi sebelum kamu menolak pikirkan dulu matang-matang."
"Maafkan saya sebelumnya Yang Mulia, sebenarnya sebelumnya saya juga sering memperhatikan Putri Rinjani saat di pasar. Ingin sekali saya berbincang-bincang atau sekedar menyapanya. Saat pertama kami berbincang-bincang, dia membuat saya memikirkan beribu pertanyaan yang ingin saya ajukan kepadanya. Tapi saya tidak bisa melakukan itu, saya malu dan saya pun sadar, saya hanya seorang buruh tani serta pemuda penjual ikan yang miskin. Saya merasa tidak pantas untuk banyak bercakap dengan wanita secantik Putri Rinjani, dan saya hanya dapat mengaguminya dalam diam. Hingga keajaiban hari ini pun datang, saya sangat senang, saya sangat bahagia sekali terhadap tawaran Yang Mulia, dengan senang hati saya menerima tawaran Anda."
"Aku sangat lega dan sangat senang sekali kamu menerima tawaranku, sekarang bersiaplah nak, kamu dan kakemu akan ikut bersamaku ke desa seberang. Pernikahan kalian akan dilaksanakan besok, lebih cepat lebih baik bukan?"
"Baiklah Yang Mulia saya akan bersiap-siap."
Merapi dan mbah Marijan pun bersiap untuk ikut Raja Agung ke desa seberang. Perikahan mereka pun digelar secara besar-besaran layaknya pernikahan dalam dongeng. Merapi berdiri dengan gagahnya mengenakan baju mewah berwarna hitam dengan corak gold. Sementara disebelahnya berdiri wanita cantik calon istrinya memakai gaun anggun berwarna gold bercorak perak. Terlihat kedua mempelai sedang bersalaman dengan para tamu undangan. Para tamu undangan yang terdiri dari para keluarga kerajaan luar pulau dan para bangsawan-bangsawan ikut berbahagia melihat keduanya. Pada hari itu juga Merapi dinobatkan menjadi Pangeran di istana kerajaan.
Beberapa bulan setelah pernikahan, Raja Agung menghembuskan nafas terakhirnya. Penyakit yang dideritanya sudah sangat akut. Tabib kerajaan pun tidak ada yang mampu mengobatinya. Pada saat itu pula sang Raja mewariskan seluruh hartanya kepada Merapi, serta menjadikan Merapi sebagai Raja di kerajaan tersebut.


***


"Dinda, sudah lama menikah kita belum mendapatkan seorang anak pun. Bagaimana ini? Apakah memang kita ditakdirkan untuk tidak memiliki seorang anak? Betapa malangnya nasib kita, hidup dengan banyak sekali harta tetapi tidak memiliki keturunan."
"Sudahlah Kanda, jangan kau sesali semua ini. Ini semua rencana Tuhan, ini semua skenario Tuhan. Jangan mengeluh seperti itu, lebih baik jalani dulu saja kehidupan kita yang seperti ini. Mungkin belum saatnya Tuhan memberi kepercayaan kepada kita untuk mengasuh anak. Mungkin aku yang tidak dapat memberimu keturunan, kalau kau benar-benar menginginkan seorang anak, silahkan engkau menikah dengan wanita lain. Sungguh aku tak apa, aku rela, demi kebahagiaanmu juga. Aku tidak melarangnya Kanda."
"Tapi Rinjani, ini hampir sembilan tahun pernikahan kita, dan kita belum memiliki anak. Apa kata rakyatku nanti? Bagaimana pula nasib takhta kerajaan ini? Siapa yang akan memimpin kerajaan ini setelah aku meninggal nanti? Tidak Dinda!! Apa yang kau pikirkan? Apa yang kau katakan? Aku benar-benar mencintaimu. Hanya engkau seorang yang aku cintai. Aku tidak akan berpaling hanya karena masalah seperti ini. Besok aku akan pergi bertapa ke Gunung Sleman. Tolong kamu jaga kerajaan ini, aku berjanji akan segera kembali. Ini untukmu, untukku, dan untuk kebahagiaan kita."
"Kanda apakah kamu serius dengan keputusanmu? Aku tidak tau akan seperti apa nasibku nanti jika kau tinggalkan. Akankah kau meninggalkanku di kerajaan ini selama bertahun-tahun Kanda? Jangankan bertahun-tahun, satu menit tidak melihatmu pun aku merasa susah bernafas. Tolong kau pikirkan lagi keputusanmu ini."
"Aku berjanji akan segera kembali dan hidup bahagia bersamamu serta anak-anak kita selamanya. Jangan terlalu mengkhawatirkanku Dinda. Aku akan baik-baik saja, percayalah. Sekarang tolong perintahkan pengawal untuk menyiapkan kudaku. Perintahkan tabib untuk membuat ramuan obat untukku. Kemudian perintahkan para dayang istana untuk mempersiapkan perlengkapanku untuk bertapa besok."
"Baiklah Kanda."
Rinjani pun segera melaksanakan perintah dari suaminya itu walaupun dengan berat hati. Ia berusaha tegar walaupun sebenarnya dia sangatlah takut untuk jauh dari Raja Merapi. Tapi apalah dayanya, keputusan Raja Merapi pun sudah bulat, ia takkan bisa mengubah keputusan yang telah dibuat suaminya.


***


Persiapan Raja Merapi untuk bertapa pun sudah lengkap. Ia mengajak kakeknya yang sudah sangat tua itu pergi bertapa. Sebenarnya ia tidak berniat untuk mengajaknya, tetapi mbah Marijan sangatlah antusias untuk ikut bertapa cucunya itu.
"Rinjani istriku tersayang, aku akan berangkat bertapa sekarang. Tolong jaga kesehatanmu dan jaga kerajaan ini serta rakyatku. Aku berjanji akan segera pulang. Aku akan menyuruh mbah Marijan untuk menuliskan surat untukmu seminggu sekali."
"Jangan khawatirkan aku wahai Rajaku, suamiku tersayang, khawatirkan kesehatanmu, aku akan baik-baik saja disini. Aku berjanji untuk menjaga kerajaan ini hingga kau pulang nanti. Aku akan selalu merindukanmu. Jaga kesehatanmu Kanda."
Raja beserta rombongan pun berangkat ke Gunung Sleman setelah berpamitan kepada Ratu Rinjani. Walaupun dengan berat hati dan perasaan resah, Ratu Rinjani tetap berusaha menunjukkan senyumnya didepan sang Raja. Dengan semangat Merapi yang berapi-api, ia dengan cepatnya memacu kudanya menuju tempat bertapa.


***


Setelah berhari-hari berkuda, sampailah mereka di lereng Gunung Sleman. Ada suatu goa di lereng Gunung Sleman yang biasa digunakan untuk bertapa, dan disitulah Raja Merapi akan bertapa.
"Mbah, saya akan mulai bertapa malam ini. Saya minta tolong kepada Mbah, tolong tuliskan surat untuk Rinjani, kabarkan bahsa kami sudah sampai di lereng Gunung Sleman. Selama seminggu sekali tolong Mbah tuliskan surat untuk Rinjani yang berisikan bahwa keadaan saya baik-baik saja. Perintahkan pengawal mengirimkan suratmya ke kerajaan. Aku tidak ingin istriku menjadi khawatir."
“Iya, akan ku tuliskan surat istrimu. Jangan terlalu mengkhawatirkan istrimu, fokuslah bertapa. Aku yakin istrimu akan baik-baik saja.”
Raja Merapi pun mulai bertapa selama berbulan-bulan. Suatu ketika dia bangun dengan sangat kaget dan berlari mencari mbah Marijan.
“Mbah..Mbah!!”
“Ada apa? Ada apa? Mengapa setelah bangun dari bertapa kau kaget dan terlihat ketakutan seperti itu?”
“Aku diberi petunjuk dalam bertapaku oleh penguasa Gunung Sleman ini Mbah. Dia berkata kepadaku bahwa aku akan mendapatkan anak jika aku bersedia mengorbankan nyawa salah satu dari aku dan Rinjani. Aku takut Mbah, aku tidak ingin Rinjani menjadi korban. Biar aku saja, biarkan aku sajaaa!! Tapi aku juga tidak ingin meninggalkan Rinjani sendiri Mbah. Aku sudah berjanji padanya untuk segera pulang. Bagaimana ini Mbah?”
“Jika itu syarat yang diminta penguasa gunung, harus berkata apa lagi? Semua tergantung padamu. Jika kamu ingin istrimu mendapatkan anak, maka kamu harus bersedia mengorbankan nyawamu. Jika tidak, lebih baik kita pulang saja ke kerajaan dan lupakan keinginanmu untuk memiliki anak.”
“Baiklah Mbak, akan ku pikirkan lagi. Sangatlah sulit untuk mengambil keputusan dalam masalah seperti ini.”
Setelah beberapa hari Raja berdiam diri di dalam goa, dia pun keluar untuk menemui Mbah Marijan untuk memberitahu keputusannya.
“Mbak, mungkin ini keputusan terbaik. Aku akan mengorbankan diriku untuk kebahagiaan istriku. Aku ikhlas mengorbankan nyawaku agar istriku bahagia bersama anak-anakku kelak.”
“Tidak salahkah kau mengambil keputusan ini cucuku? Pikirkan lagi.”
“Sudahlah Mbah, aku yakin ini yang terbaik. Tolong Mbah jangan biarkan isrtiku tahu bahwa aku telah mengorbankan diriku untuknya. Jangan sampai berita kematianku sampai ke kerajaan. Aku sungguh tidak ingin istriku merasa sedih.”
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku berjanji akan menjaga rahasia ini.”
Hari itu juga Raja Merapi mengorbankan dirinya dengan jatuh ke dalam lahar panas Gunung Sleman. Berita kematian sang Raja sempat terdengar oleh warga sekitar. Mbah Marijan membangun sebuah gubuk kecil di lereng Gunung Sleman untuk bertahan hidup menghabiskan sisa hidupnya. Gunung Sleman pun telah diubah namanya menjadi Gunung Merapi oleh warga sekitar. Berita kematian Raja Merapi akhirnya terdengar sampai ke kerajaan setelah sembilan bulan lebih tujuh belas hari kematian sang Raja. Ratu Rinjani yang saat itu baru usai melahirkan betapa histerisnya setelah mendengar berita tersebut. Dia menangis sejadi-jadinya sangat terpukul ketika mendengar berita tersebut. Selama bebrapa bulan ia mengurung dirinya di kamar, ia mengalami stress karena berita tersebut.
Ratu Rinjani kini hanya hidup bersama tiga orang anak kembarnya yaitu Semeru, Raung, dan Ijen. Semeru putra sulungnya yang sangat pemberani, Raung putra keduanya yang berwajah tampan dan memiliki intelektual tinggi, dan Ijen putrinya yang sangat cantik jelita serta lemah lembut sepertinya. Sekarang dia hanya dapat menatap ketiga anaknya penuh kasih sayang serta kerinduan yang mendalam terhadap sang suami. Mungkin jika tahu seperti ini ia tidak akan membiarkan suaminya pergi bertapa. Tapi apalah daya Rinjani, mungkin inilah yang dinamakan takdir. Walaupun begitu, kasih sayang yang diberikan Rinjani kepada anak-anaknya sangatlah besar. Akhirnya mereka hidup berbahagia walaupun dibalik kebahagiaan itu ada luka dan duka yang mendalam di hati Rinjani.



Cerpen tentang Ayah



Maafkan Aku Ayah .
Oleh: Audita fathana


Aku terdiam menerawang, ingin berlari, lari ke tempat yang jauh .. menjauh dari kenyataan pahit, kenyataan yang memaksaku untuk menelan segala bentuk rasa perih. Aku terduduk disini, disudut ruangan yang hanya ada beberapa orang. Segala pikiranku melayang jauh entah kemana, hatiku sakit mengiris melihat sebujur mayat yang kaku didepan mataku. Jika bukan karena Dia, orang paling otoriter, terlalu keras kepala, egois dan suka bertingkah semaunya mungkin ini semua takkan terjadi, mayat kaku itu mayat yang dulunya saat matanya masih terbuka dan nafasnya masih berhembus yang telah melahirkan dan membesarkan aku dengan segenap kasih sayangnya, menemaniku  saat aku merasa kesepian, mengajarkanku banyak hal dengan senyum dan tawanya. Tapi kini semua seakan sirna, rencanaku dimasa depan, senyum dan tawaku seakan dirobek dihancurkan hingga tak berbekas oleh ayahku orang paling egois yang pernah kukenal. Jika bukan karena  dia yang suka meninggalkan Ibu, Ibu tak mungkin jatuh sakit dan meninggalkanku sendirian didunia yang kejam ini, jika bukan karena alasan konyolnya itu  Ibuku takkan merasa kesepian yang begitu hebat. Dan bodohnya aku tak pernah tau alasan konyol yang membuat ayah meninggalkan Ibu.
Kejadian setahun lalu sebelum hari ini, ayahku meninggalkanku dengan alasan pergi entah kemana aku tak tau dia berjanji akan kembali, namun yang kutahu sejak jam itu, menit itu, dan detik itu ayahku tak kembali lagi. Dan kini dia membawa penyesalan, tangisan yang kuanggap air mata buaya, ya aku tak suka caranya pergi tanpa jejak dan kini datang hanya dengan sebuah permintaan maaf ! Aku saja mungkin sudah tak ingin menyebut dia sebagai “Ayah” lagi, yang kuingat bagaimana perihnya  perjuangan ibuku untuk tetap bertahan hidup bersamaku, dimulai pagi petang menyusuri hutan mencari kayu bakar, dlanjutkan mencari apa saja yang ada dihutan yang bisa kami gunakan untuk mengganjal perut, andai saja ia yang dulu kusebut sebagai “Ayah” tahu, ya begitu seterusnya cara kita bertahan  hingga empat bulan lalu tanpa kutahu ternyata ibuku sakit, kenyataannya dia merindukan ayahku, kenyataannya bahwa dia telah berputus asa, dia tak tega melihatku begitu sengsara hidup bersamanya, saat terakhir sebelum dia meninggalkanku dia sempat berpesan “Carilah ayahmu nak, hiduplah bersamanya. Maafkan ibumu yang selalu membuat hidupmu repot, membuat kamu susah” hanya sepatah kalimat itu dan kini ibuku telah menutup mata untuk selama-lamanya, tanpa sempat aku mengucap terima kasih, tanpa sempat aku berkata maaf, dan tanpa sempat ku cari “Ayah” yang selama ini membuat Ibuku susah. Namun kini dia datang dengan sebuah permintaan maaf, membuatku bertanya untuk apa ? apa saja yang ia lakukan selama ini? Kemana dia saat aku benar-benar membutuhkannya? Semua pikiran itu berkecamuk tanpa bisa aku utarakan, lidahku kelu membisu, aku hanya bisa menatap nya dengan tatapan nanar, kosong, menahan perih tanpa bisa kubagi rasanya.
***
Hari berlalu dengan begitu saja, sudah tiga bulan sejak kematian Ibuku. Aku masih saja suka berdiam diri, duduk diteras depan menanti senja berharap ada suara nyaring yang berkata “ayo sudah malam, masuklah nanti masuk angin”. Aku begitu merindukannya, merindukan tawanya yang khas, cara dia memberikan sebuah pelukan, dan cara dia memberikanku nasehat. Dan kini semua seperti kenangan, kini aku hanya hidup berdua dengan seseorang yang sudah kuanggap asing sejak detik ia meninggalkanku, aku tak pernah menganggapnya, walaupun dia begitu ingin memperhatikanku, memberikan juga kasih sayangnya yang sempat hilang, tapi hatiku terlanjur sakit aku begitu membencinya sampai aku tak bisa lagi mengungkapkannya, pembohong, penipu segala ucapan yang tak patut untuk kuutarakan kepada ayah sebagai seorang anak aku katakan tepat ditelinganya, masih kuingat setelah seminggu sejak kematian Ibu dia mencoba berbicara padaku “Maafkan Ayah le, ayah tidak bermaksud untuk meninggalkan .. ka ..“ “Halah sudahlah, simpan saja semua omong kosongmu itu kesalahan mana dulu yang harus kumaafkan? Persetan dengan maaf, segalanya telah hancur, dan terimakasih untuk Anda yang telah menghancurkan segalanya, aku tak pernah berpikir jika Anda bisa sampai sejauh ini! Maafkan aku sebagai seorang anak yang telah berbicara begitu hina didepan ayahnya” aku berlari meninggalkan ayahku dengan perasaan terpuruk, sedih, kecewa, marah bahkan dalam situasi seperti itu aku masih sempat memikirkan bagaimana perasaan ayah atas ucapanku, bagaimanapun aku tetaplah anaknya, naluri kasih sayangku masi begitu kuat untuknya, walaupun kecewa yang aku rasakan sudah begitu hebat.
Dan sejak kejadian itu aku tak pernah bertegur sapa dengannya, jangankan bertegur sapa melihat saat kita berhadapan pun tidak. Kita hidup satu atap tapi layaknya orang asing, perasaan kecewa itu masih saja terus membayangi, tak pernah membiarkanku hidup tenang tanpa dendam dan keikhlasan, jika kulihat wajahnya yang telah menua, aku masih teringat ibuku, teringat bagaimana kata terakhir yang ibu ucapkan padaku, itu yang membuatku masih sangat kecewa, merasa begitu terpuruk, dan perasaan sedih itu kembali, aku tak pernah memperhatikannya, apa yang dia makan, bagaimana jika dia sakit, dan dimana dia tidurpun aku tak tahu mungkin lebih tepatnya seperti tak ingin tahu. Pernah satu waktu aku tahu, aku melihatnya duduk dibawah pohon depan rumah sambill menyedot rokok kesukaannya, entah apa yang sedang ia pikirkan, kulihat sekilas setelah itu kubiarkan dan kembali aku menjalani aktifitasku seperti biasa.
Hingga suatu pagi, saat aku merasa perasaanku menjadi lebih baik, aku keluar dari kamarku dan kudapati semakin hari rumah ini menjadi semakin kotor, segalanya berantakan, debu-debu berterbangan dimana-mana, segalanya jadi tidak terurus setelah kepergian Ibuku. Karena perasaanku saat itu sedikit lebih baik akhirnya akupun berinisiatif untuk membereskannya, ku sapu lantai, ku bersihkan seluruh sudutnya, ku tata dengan rapi,  hingga saat aku membereskan buku yang bertebaran dimeja aku temukan beberapa lembar kertas tulisan tangan ayahku tulisan orang tua yang sangat khas.
Lembar pertama tertulis tanggal duaminggu dari hari ini.
“Nak, maafkan ayah yang begitu bodohnya meninggalkan kamu dan Ibumu. Maafkan ayah yang pergi tanpa meninggalkan kabar untukmu, maafkan ayah yang meniggalkanmu dengan alasan palsu, betapa menyesalnya ayah,  sampai membuat anak kesayangan ayah begitu marah dan membenci ayah. Maafkan ayah nak “.
Lembar kedua tertulis seminggu setelah lembar pertama dibuat suratnya juga begitu panjang,
            “Nak, sampai kapan kamu akan menyiksa ayah ? sungguh ayah begitu menyanyangimu, ayah tak pernah bermaksud untuk meninggalkanmu dan ibumu, ayah sungguh sangat menyayangimu. Dengan cara apa ayah harus menunjukkannya nak? Perlu kamu tahu, sejujurnya Ayah meninggalkanmu waktu itu, sebenarnya ayah kekota mengadu nasib agar bisa membuat hidup kita lebih baik namun ayah berbohong ayah memasukkan alasan yang begitu tidak masuk akal ayah bilang hanya pergi sebentar maafkan ayah nak. Sebenarnya saat 5 bulan setelah ayah meninggalkanmu ayah mengira penghasilan ayah menjadi lebih baik dan ayah ingin mengajak kau dan ibumu tinggal dikota, apalah daya Tuhan berkata lain, Tuhan kembali memerosotkan penghasilan ayah hingga hampir 5 bulan ayah mencoba mengembalikan penghasilan ayah namun sama aja, ayah hampir putus asa maka dari itu sebenarnya ayah belum siap untuk kembali tapi bagaimana lagi kalianlah tempat terbaik untuk ayah pulang, sampai akhirnya ayah pulang dengan sejuta pengharapan semoga kamu dan ibumu memaafkan ayah dan tidak membenci ayah. Tapi ? sungguh ayah tak pernah mengira segalanya akan jadi seperti ini. Maafkan ayah nak.”
Dan kini tiba pada lembarketiga yang ditulis pada hari ini
“Nak, apalah arti hidup ini jika kamu tak bisa memaafkan ayah. Mungkin jika segalanya berakhir kamu akan memaafkan ayah nak. Iya kan nak? Berjanjilah pada ayah. Maafkan ayah yang hanya membuat hidupmu susah nak, maafkan ayah yang membuat hidupmu repot dan merasa terbebani. Maafkan ayah nak”
Begitu akhir dari lembar ketiga surat ayahku, aku hanya bisa terbelalak kaget, hatiku luluh bagaimanapun aku tak ingin kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya. Kalimat-kalimat ayah mengingatkanku bagaimana ibu dulu mengucapkan kata terakhirnya, aku hanya tak ingin menyesal seumur hidupku. Tanpa pikir panjang aku berlari mencari ayah, aku menyusuri hutan, bertanya kepada semua penduduk yang aku temui hingga satu orang penduduk menunjukkan bahwa ayahku sedang berdiri diatas jurang yang ada dibukit, hatiku serasa terhenti aku takut terlambat “celaka” akhirnya aku berlari, tak kuhiraukan berbagai kerikil yang menghujam kakiku, pikiranku hanya terfokus untuk ayah, sungguh aku sangat menyayangi ayah. Sembari berlari tak terasa air mataku mengalir. Dan disana kutemui laki-laki yang mulai menua, rambut putihnya sudah begitu terlihat dan tanpa sadar aku berucap “Ayah…..” menimbulkan suara gema disekitarnya. Ayah menoleh dan berkata “Maafkan ayah nak .. “ “Berhentilah bersikap bodoh ayah, sudah cukup waktu satu tahun ayah meninggalkanku kini aku tidak ingin ayah meninggalkanku lagi untuk selamanya. Aku sudah memaafkan ayah, aku sungguh menyayangi ayah. Jangan pernah lakukan hal bodoh yang membuat anakmu ini menyesalinya hingga seumur hidup yah. Berhentilah, ayo kita pulang, ayo kita mulai segalanya dari awal kembalikan kasih sayang ayah yang satu tahun hilang itu yah … jangan pergi meninggalkanku” begitulah kata terakhir kuakhiri dengan aliran airmata yang menetes deras, deru nafas dan degup jantung yang berdetak cepat, perih hati sudah kuungkapkan mungkin memang ini jawaban untuk segala pertanyaanku, ini adalah jawaban untuk dendam yang selama ini aku simpan. Aku tak pernah benar-benar membenci ayah, aku menyayangi nya lebih dari kata yag sanggup aku ucapkan. Namun diluar dugaanku, ayahku malah mengangkat alis dan berkata “Apa maksudmu? Apa kau kira aku akan mengakhiri hidupku dengan terjun dari atas jurang ini? Tidaklah anakku, ayahku sudah begitu berdosa meninggalkanmu, ayah tidak ingin mengulangi untuk yang kedua kalinya  berhentilah menangis, kemari peluk ayah.” Lalu ayahku tertawa geli sambill membuka kedua tangannya, aku hanya bisa melongo dan seketika wajahku berubah masam mendengar jawaban ayah aku malu tapi sebenarnya aku juga lega ayah tidak jadi bunuh diri. Dan berakhirlah drama ayah dan anak itu dengan pelukan, mereka berpelukan hingga senja datang dan mengantar mereka pada kegelapan.  Mereka sadar, jika satu sama lain merupakan kekuatan yang selama ini mereka cari, jika mereka satu maka segalanya akan terasa baik-baik saja. “lihatlah bulan bersinar begitu terang, lihat ibumu mungkin sedang tersenyum pada kita”.